BBB (Bukan Bumimoro Biasa)

Tidak banyak orang yang mengenal Museum Bumimoro. Sebenarnya tempatnya tidak sulit dicari meski agak jauh dari tengah kota, yaitu didekat pelabuhan. Meskipun namanya museum, tapi tempatnya nggak membosankan kok. Apalagi di sana ada banyak miniatur kapal perang yang pasti menarik banget buat cowok-cowok. Jadi, baca selengkapnya di sini ya…

 Batu Resmi? : Tanda Peresmian Museum/Planetarium Loka Djala Srana


Museum di daerah Bumimoro ini sebenarnya bernama Museum Loka Djala Srana. Apa itu Loka Djala Srana? Loka Djala Srana berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti tempat untuk menyimpan dan melestarikan benda-benda sejarah, khususnya benda sejarah yang berhubungan dengan TNI Angkatan Laut, baik bukti-bukti kisah perjuangan TNI AL, benda yang pernah dipakai maupun diproduksi oleh TNI Angkatan Laut. Contohnya seperti Kapal tempur, seragam TNI AL, senjata, dan lain-lain. Museum Loka Djala Srana diresmikan pada tanggal 19 September 1969 oleh Ibu Sri Mulyadi. Ibu Sri Mulyadi adalah istri dari Laksamana R. Mulyadi, dikenal sebagai orang yang sangat berjasa di Akademi Angkatan Laut karena beliau adalah ibu pengasuh kadet—sebutan siswa Angkatan Laut. Museum ini adalah museum khusus yang hanya menyimpan benda-benda bersejarah dalam TNI Angkatan Laut. Museum ini adalah satu-satunya museum TNI Angkatan Laut di Indonesia, jadi semua benda-benda sejarah TNI AL dari dulu hingga sekarang di seluruh Indonesia disimpan di Museum ini.
Peluru Raksasa : Salah satu peninggalan benda sejarah yang cukup vital.

Ada banyak sekali benda yang tersimpan di dalam 6 gedung yang berbeda di Museum Loka Djala Srana. Gedung pertama yaitu tempat penyimpanan senjata dan peluru. Senjata ini dulunya diambil dan dirampas dari kolonial, mengingat dulu saat perang satu-satunya senjata berharga yang ampuh dipakai di Indonesia hanya bambu runcing. Terpaksa, untuk bisa melawan kolonial maka pejuang Indonesia harus merampas senjata tersebut dari kolonial. Salah satunya yang disimpan disitu adalah Torpedo buatan Jepang yang dulu dipakai untuk menghadapi armada sekutu. Torpedo ini sangat besar. Panjangnya 5,25 meter dengan diameter 4,5 meter dan massa 1.459 kg. Selain itu juga ada roket buatan Indonesia pada tahun 1956. Roketnya berukuran kecil, tapi itu merupakan sebuah prestasi, karena Indonesia pertama kalinya bisa membuat roket sendiri. Ini merupakan bukti kalau siswa Indonesia itu sangat berbakat. Benda lain yang disimpan di gedung itu adalah proyektil peluru yang sangat besar.

 
Banyak Pigura Foto : Foto Sang Pemimpin TNI AL sepanjang masa terpampang pada dinding.

Gedung selanjutnya berisi meja kursi yang dipakai oleh para petinggi TNI Angkatan Laut. Di sepanjang dinding dipasang foto-foto pemimpin nomor satu TNI AL sepanjang masa, disusul dengan pemimpin-pemimpin Akademi Angkatan Laut. Ada juga perabot sofa duduk dan meja kopi yang indah dengan ukiran-ukiran disekelilingnya, yang cuma boleh dipakai ketika ada tamu luar negeri yang datang. Mengapa begitu? Karena pada jaman itu mereka ingin memperlihatkan budaya khas Indonesia pada tamu-tamu itu. Meja Kursi bagi tamu luar negeri ini sudah ada sejak tahun 1978 dari Bali. Benda lain yang bisa kita lihat disana adalah tandu Jenderal Soedirman. Saat itu, meskipun beliau sedang sakit tapi dia tetap memimpin, walaupun harus dibawa menggunakan tandu. Semangatnya itu lho, yang patut ditiru oleh anak-anak muda jaman sekarang!

Baju Ikutan Mejeng : berbagai macam baju yang digunakan oleh TNI AL dipajang dengan rapi.

Gedung-gedung selanjutnya berisi pakaian-pakaian dan seragam TNI AL. Bahkan ada seragam dinas khusus untuk ke luar negeri! Ada juga pakaian selam pertama di Indonesia yang ukurannya super besar, serta baju Wapak dan jimat-jimat yang memiliki kekuatan magis. Baju Wapak ini sangat unik. Berwarna putih, tipis dan kumal. Meskipun begitu, ini adalah baju anti peluru pejuang Indonesia pada jaman perang dulu. Indonesia saat itu belum punya baju anti peluru yang tebal dan berat, yang benar-benar tidak bisa tertembus peluru, tapi hanya memakai baju wapak ini. Baju ini dipercaya tidak bisa tembus peluru.

 Tua Banget... : Sepeda motor yang dipakai di tempoe doloe ^^

Banyak juga benda-benda berupa jimat seperti sabuk yang kegunaannya dipercaya sebagai anti peluru dan supaya tidak terlihat musuh. Percaya atau tidak, itulah modal pejuang Indonesia saat berperang melawan senjata-senjata yang modern. Tidak lupa, ada senjata andalan Indonesia yaitu bambu runcing. Bambu yang disimpan di Museum Loka Djala Srana itu masih asli bambu, bahkan masih ada bercak dara kehitaman yang tersisa di ujungnya. Di sana juga tersimpan sepeda motor pengawal presiden yang pertama kali dipakai serta bendera merah putih yang sobek dan kusam, tapi sebenarnya berisi tulisan-tulisan yang dulu digunakan untuk mengobarkan semangat juang Indonesia. Selain itu banyak tersimpan piala-piala oleh Akademi Angkatan Laut yang dimenangkan dalam pertandingan antar kadet.

Full Sized Banget! : Kapal tempur pertama kali yang masih dipertahankan keasliannya

Ini nih yang ditunggu-tunggu. Gedung terakhir yang kami kunjungi berisi penuh dengan kapal-kapal perang. Bahkan, ada kapal kayu yang dulu dipakai perang pertama kali. Saat ini kondisinya sudah agak rusak, tapi bahkan kapal yang terlihat rapuh itu juga berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kapal-kapalnya kebanyakan berupa miniatur-miniatur kapal besar. Kapal perang berisi senjata biasanya kapal second yang diimpor dari luar negeri. Sementara kapal patrol yang lebih kecil sudah bisa diproduksi sendiri oleh Indonesia.

 Asri Lho : Rerumputan yang hijau dan adanya pohon - pohon membuat tempat ini nampak lebih segar.

Kesimpulan yang kami dapat dari tempat ini, sebenarnya Museum Loka Djala Srana sangat menarik untuk dikunjungi. Tempatnya sejuk dan sederhana. Sayang, museum ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah sehingga tidak terawat dengan baik. Pemerintah tidak memberikan cukup dana untuk pengelola museum sehingga museum ini terkesan mangkrak dan hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah saja, tapi tidak ada perkembangan. Selain itu Indonesia masih banyak membeli kapal tempur bekas dari luar negeri seperti Jerman, Amerika, dan Belanda yang tentunya lebih mahal dan second. Karena itu, kitalah sendiri yang harus memulai sebagai murid. Caranya, ya belajar yang rajin dan nggak boleh menyerah supaya kita bisa menciptakan kapal-kapal perang sendiri. Siapa tahu, suatu hari nanti kapal perang Indonesialah yang di ekspor ke negara lain? (Aminnn… :D)

Biaya masuknya memang cukup mahal, sekitar Rp 50.000,- per orang dengan seorang guide yang memandu sepanjang jalan. Tapi, sepertinya pengalaman yang kita dapatkan sebanding kok, dengan apa yang kita bayarkan. Jadi, selamat menikmati!!! ♥

Share/Save/Bookmark
Labels: , edit post
0 Responses

Post a Comment

  • Prologue

    "The fear of the LORD is the beginning of knowledge, But fools despise wisdom and instruction. -Proverbs 1:7"

    During our one day rally field trip, we visited some interesting places all over Surabaya. We went to Kampung Kalirungkut, Museum Bumimoro, JTV, and TPS Keputih. Together we've been through some unexpected journey. We learned a lot of things from our field trip. Through this blog, we want to share our experience and we hope you'll learn something from what we've provide from our research during the Field Trip. Hope you enjoy this blog!
    -From The Creators-

    Tags

    Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

    Blog Archive

    Shout It Out!

    Kali Rungkut Gallery

    Bumimoro Museum Gallery

    JTV Gallery

  • Firefox 3.6 Recommended for Best Web Experience You're settling for good when there's awesome.  Upgrade to Firefox 3.6!

    Which is the best place from this three?



    Subscribe via email

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner



    The Creators


    -oRaNGeHoLiC_aKa_SoYz-

    -m1nT.n1c3_aKa_eVa-

    -StePH_aKa_SG-

    -sTe027_aKa_GoNDo-

    -VoCaLoiD_aKa_MaLViN-

    -ChRoNo_aKa_RiChArD-