Masyarakat dikatakan baik kalau bisa menjadi masyarakat mandiri. Masyarakat disebut mandiri jika berhasil memenuhi syarat-syarat atau ciri-ciri masyarakat mandiri. Kita sudah tinggal di masyarakat yang mandiri belum ya? Ayo kita lihat ciri-cirinya dan contohnya dari perbandingan TPS Keputih dan Kampung Kalirungkut ini. Barangkali, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari dua tempat yang berbeda ini. X)
Masyarakat bisa dibilang mandiri bila memenuhi syarat-syarat berikut.
1. Free Public Sphere (Ruang publik yang bebas)
Semua masyarakat berhak mengikuti semua kegiatan publik yang ada, berhak mengungkapkan pendapatnya, berkumpul, mempublikasikan informasi kepada publik.
2. Demokratisasi
Mewujudkan masyarakat yang demokratis yang harus memiliki kesadaran diri sendiri, kesetaraan, kemandirian, serta kemampuan untuk berdemokrasi dan mendapat perlakuan demokrasi dari orang lain.
3. Toleransi
Setiap masyarakat harus menghargai dan menghormati satu sama lain maupun kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. Mereka harus bersedia menerima perbedaan pendapat, pandangan politik, maupun sikap sosial dari masyarakat.
4. Pluralisme
Mengakui dengan tulus bahwa setiap masyarakat itu berbeda-beda dan bahwa mereka semua sama di hadapan Tuhan. Tidak lupa, kita harus menghargai dan menghormatinya, serta menyadari bahwa keberbedaan itu adalah berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.
5. Keadilan Sosial
Setiap individu mampu melakukan hak dan kewajibannya dengan baik dan seimbang secara proporsional. Tidak lupa tanggung jawab setiap orang untuk peduli terhadap lingkungannya.
6. Partisipasi Sosial
Kedewasaan dan kemandirian politik setiap masyarakat tanpa adanya pengaruh, intimidasi, ataupun intervensi dari pihak lain yang terkait.
7. Supremasi Hukum
Adanya jaminan untuk berjalannya keadilan. Setiap orang harus memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama.
Waktu masuk ke Kampung Kalirungkut, sudah kelihatan banget kalau kampung ini sangat bersih dan rapi. Inilah contoh masyarakat mandiri. Pinggir jalan penuh terisi tanaman-tanaman dan tidak ada sampah yang berserakan sama sekali. Semua warganya ramah-ramah dan ada beberapa luksian di dinding kampung. Masuk lebih dalam, ada sebuah papan pengumuman dan tempat untuk warga duduk-duduk. Nah, disana ada tempat sampah. Tempat sampahnya ada dua macam. Mungkin ini hal kecil, tapi semua yang besar kan dimulai dari hal kecil.
Dari sampah ini, kesadaran diri masyarakat diuji dimana mereka harus bisa melakukan kewajibannya dengan baik. Selain itu, mereka belajar menghargai program yang dikerjakan orang lain. Semua orang yang tidak mengikuti aturan akan di hukum. Masyarakat kampung ini juga sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka melakukannya atas keinginan bersama-sama, bukan karena ada desakan atau perintah dari yang lain. Menarik lho, untuk ditiru. Kita bisa menanam tanaman toga dan merawatnya baik-baik. Mengolah sampah plastik jadi bahan tas, dan lain-lain.
Diabadikan : Monumen yang mengingatkan warga bahwa mereka telah berpartisipasi dan menghasilkan sesuatu untuk lingkungan mereka sendiri.
Budaya politik masyarakat di Kampung Kalirungkut ini adalah partisipatif. Mereka mampu memilih partai politiknya menurut kriteria masing-masing tanpa terpengaruh sama orang lain. Hal ini menunjukkan demokratisasi dan pluralisme. Orang-orang berhak mengungkapkan keinginannya dan setiap masyarakat punya pandangan yang berbeda-beda.
Kondisi yang berbeda terlihat waktu kita masuk ke kawasan TPS Keputih. Di sana ada pemukiman penduduk yang rumahnya tempatnya tidak beraturan dan terbuat dari gedek. Sampah bertebaran dimana-mana, bahkan anak-anak main di atas tumpukan sampah. Bukannya berniat mengejek, tapi tempat ini sangat kumuh. Lingkungan tempat tinggal yang seperti ini pun sebenarnya tidak sehat dan tidak layak untuk ditinggali. Masyarakat TPS Keputih rata-rata pekerjaannya bergelut dengan sampah. Terlihat di tengah halaman gersang yang kotor dan penuh sampah, ada tumpukan tutup botol yang dikumpulkan menjadi satu.
Masyarakatnya tidak punya keinginan untuk mandiri. Dari sini kelihatan kalau mereka sangat bergantung pada orang lain. Bisa dikatakan, masyarakat di TPS Keputih masih jauh dari yang namanya masyarakat mandiri. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Misalnya, rendahnya kualitas pendidikan, masyarakat kurang mampu, atau pendidikan politik masyarakat yang masih rendah. Masyarakat belum menunjukkan adanya keadilan sosial. Kondisi masyarakat disini lebih seperti "Siapa berkuasa, dia yang menang"... Mirip seperti hukum rimba ya? Jadi mereka tidak berani untuk berdemokrasi.
Ada Hasil : Dengan adanya orang yang mau peduli dan meluangkan waktu mereka untuk peduli sekitar, suatu barang bisa dihasilkan dan menjadi pemasukan mereka sendiri.
Masyarakat masih menganut budaya politik mobilisasi. Ya karena "Hukum Rimba" tadi. Jadi apapun pilihan pemimpin masyarakat ini, itu jugalah yang mereka pilih. Mereka tidak punya kemandirian untuk melakukan sesuatu. Hmmmm... Mungkin karena banyak masyarakat seperti inilah, makanya Indonesia nggak bisa maju. Mungkin kita yang lebih mampu bisa membantu mereka. Caranya? Mudah sekali! Misalnya dengan membagi nasi bungkus untuk mereka, memberi penyuluhan untuk memanfaatkan limbah plastik, dan lain sebagainya.
Dari dua kampung di atas, kita sudah tahu perbedaan masyarakat mandiri dan yang tidak. Kalau sudah begini, apa kita mau diam saja? Tidak, kan? Jadi, ayo membentuk masyarakat yang mandiri di seluruh Indonesia supaya negara kita bisa maju, dan kita jadi semakin bangga jadi ANAK INDONESIA!!! ♥
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Post a Comment